Awan gelap menyelimuti Persiba

Sindonews.com – Awan gelap bagi Persiba Bantul terus berlanjut sampai diputarnya kompetisi Indonesian Primier League (IPL) musim depan. Meski sudah melakukan seleksi pemain sejak pertengahan November lalu, namun sejauh ini belum ada pemain yang dikontrak. Belum adanya sponsor klas kakap yang membuat managemen tidak berani menyodori kontrak kepada Nopendi dkk. Belum adanya sponsor yang berani mendanai kiprah tim Laskar Sultan Agung disinyalir akibat konflik PSSI – KPSI yang tidak kunjung reda. Dampak selanjutnya, tim pelatih yang terdiri Sajuri Syahid, Benny van Breukellen dan Albert Rusdiana harus kehilangan beberapa pemain seleksi yang direkomendasikan ke manajemen, akibat tak kunjung mendapat kepastian kontrak. Sekretaris Persiba, Wikan Werdho Kisworo mengatakan, meski Persiba tampil sebagai kampiun di even pramusim Batik Cup dan Magelang Cup, ternyata tidak mudah untuk menggaet sponsor. “Situasinya memang seperti ini (belum ada sponsor), dan kami hanya berharap mereka mau bersabar setidaknya hingga pertengahan Januari bulan depan,” katanya, Selasa (25/12/2012). Pernyataan pria asli Puton Jetis Bantul ini seolah menggaris bawahi statemen Direktur Utama PT BIG, Idham Samawi yang menginginkan agar pengalaman buruk musim lalu, khususnya masalah gaji pemain, tidak ingin terulang kembali. “Dana yang kita miliki baru setengah dari kebutuhan total selama semusim sekitar Rp9-10 miliar. Kalau sekedar kontrak awal saja kita bisa, namun saya punya komitmen untuk lebih baik dari musim lalu,” kata Idham. Idham mengakui, batas waktu untuk mendapatkan sponsor terus menyempit. Setidaknya masih kurang dua pekan lagi agar tim kebanggaan publik Bantul ini mendapatkan sponsor. “Tanggal 8 Januari sebagai tenggat terakhir kepastian mendapatkan sponsor,” imbuh mantan Bupati Bantul. Wikan menambahkan, ada beberapa wacana solusi untuk menyiasati krisis finansial Persiba. Wacana yang mengemuka antara lain beralih ke kompetisi amatir, menurunkan gaji pemain hingga peleburan merger dengan klub lain. Wacana merger dianggap sebagai yang terbaik. “Merger sebenarnya juga bisa saja dilakukan, karena kita memiliki modal fasilitas stadion yang sangat memadahi dan kerangka pemain yang kuat,” ungkapnya. Wacana merger lebih baik dibanding pindah jalur dari kompetisi profesional ke kompetisi amatir. Wacana turun kasta ini jelas menanggung konsekuensi yang sanga besar. “Jika mau jadi amatir jelas penurunan yang sangat jauh, anjlok, dan bisa dipastikan naiknya akan sangat sulit nantinya,” ujarnya. ( wbs ) dibaca 1.041x

Sumber: Sindonews