Kasus Suap Pajak PT EK Prima, KPK Periksa Sesditjen Pajak

Jakarta – Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus mengusut kasus dugaan suap penghapusan pajak PT EK Prima Ekspor Indonesia. Dalam mengusut kasus ini, penyidik menjadwalkan memeriksa Sekretaris Direktorat Jenderal (Sesditjen) Pajak, Andreas Setiawan, Rabu (7/12). Pemeriksaan terhadap Andreas dilakukan penyidik untuk melengkapi berkas bos PT EK Prima Ekspor Indonesia Rajesh Rajamohanan Nair yang telah berstatus tersangka. “Andreas akan diperiksa sebagai saksi untuk tersangka RRN (‎Rajesh Rajmohanan Nair),” kata Juru Bicara KPK, Febri Diansyah. Diketahui KPK menangkap Kepala Subdit Bukti Permulaan Direktorat Penegakan Hukum Ditjen Kementerian Keuangan, Handang Soekarno dan Rajesh usai bertransaksi suap pada Senin (21/11) malam. Dari tangan Handang, tim satgas KPK menyita uang sebesar USD 148.500 atau sekitar Rp 1,9 miliar. Diduga, uang tersebut merupakan pemberian pertama dari yang disepakati sebesar Rp 6 miliar. Uang suap ini diberikan kepada Handang untuk mengurus sejumlah persoalan pajak yang dihadapi PT E.K Prima Ekspor Indonesia. Salah satunya, terkait surat tagihan pajak (STP) PT E.K Prima sebesar Rp 78 miliar. PT E.K Prima Ekspor Indonesia merupakan anak perusahaan dari Lulu Group International yang berkantor pusat di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Rajesh juga menjabat sebagai salah satu direksi di Lulu Group yang usaha utamanya bergerak di bidang retail. Setelah diperiksa secara intensif, Handang ditetapkan KPK sebagai tersangka penerima suap dan disangka melanggar Pasal 12 ‎huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 UU nomor 31 tahun 1999 sebagaimana telah diubah UU nomor 20 tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi. Sementara Rajesh ditetapkan KPK sebagai tersangka pemberi suap dan dijerat dengan Pasal 5 ayat (1) huruf a atau Pasal 5 ayat (1) huruf b atau Pasal 13 UU nomor 31 tahun 1999 ‎sebagaimana telah diubah UU nomor 20 tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi. Fana Suparman/FMB

Sumber: BeritaSatu